BAB I

  1. LATAR BELAKANG

 

Salah satu industri manufaktur strategis yang memiliki peran penting dalam struktur industri nasional adalah industri petrokimia. Struktur industri petrokimia yang kuat akan memberikan landasan kokoh bagi tumbuh dan berkembangnya industri lain baik yang merupakan turunan langsung ataupun tidak langsung dari industri tersebut. Kuatnya struktur industri petrokimia terutama di sisi hulu dan antara tidak hanya akan berdampak positif sebagai penghasil bahan baku yang dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan devisa negara, namun akan memperkuat dasar dan mendukung percepatan pertumbuhan industri turunan / hilirnya.

 

Penguatan struktur industri petrokimia melalui pengisian kekosongan pada pohon industri diharapkan mampu mengisi peluang perluasan dan pengembangan industri hilir yang berimplikasi pada penguatan struktur industri, pertumbuhan kesempatan berusaha, pertumbuhan tenaga kerja, serta alternatif penambahan devisa negara.

 

Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara dengan keanekaragaman sumberdaya alam yang melimpah sebagai bahan baku utama industri petrokimia berupa minyak bumi, gas alam, batubara dan biomassa. Ketersediaan bahan baku tersebut dapat mendorong perkembangan industri petrokimia yang merupakan penopang industri nasional dalam upaya pemenuhan kebutuhan manusia terhadap pangan, sandang, papan dan energi.

 

Optimalisasi sumber daya industri petrokimia dalam rangka meningkatkan daya saing industri dapat dilakukan melalui pemanfaatan potensi internal berupa maksimalisasi kekuatan struktur industri serta minimalisasi kelemahan/dampak eksternal industri. Faktor internal meliputi : optimalisasi pemanfaatan sumber daya bahan baku, orientasi pasar domestik, penguatan keterampilan sumber daya manusia, optimalisasi fasilitas produksi dan jalur distribusi. Faktor eksternal meliputi : pertumbuhan permintaan, pengguna, teknologi, harga produk serta persaingan.

 

Industri petrokimia dapat dikategorikan sebagai jenis industri yang padat modal (capital intensive), padat teknologi (technology intensive) dan lahap energi (high absorbed energy). Integrasi mutlak diperlukan bagi suatu industri terlebih jika industri tersebut memiliki peranan strategis. Disamping itu, dalam pengembanganya perlu ada satu rangkaian kebijakan dan strategi berkesinambungan (sustainable policy) yang didukung kerjasama baik tingkat lokal, regional maupun internasional. Kombinasi kebijakan dan strategi yang tepat mutlak dibutuhkan dalam rangka mendorong terciptanya efisiensi dan peningkatan daya saing industri petrokimia serta industri secara keseluruhan.

 

 

  1. SEJARAH

 

PT. Petrokimia Gresik merupakan pabrik pupuk terlengkap di Indonesia, yang pada awal berdirinya disebut Proyek Petrokimia Surabaya. Kontrak pembangunannya ditandatangani pada tanggal 10 Agustus 1964, dan mulai berlaku pada tanggal 8 Desember 1964. Proyek ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 10 Juli 1972, yang kemudian tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi PT Petrokimia Gresik.

 

Perubahan status perusahaan :

  1. Perusahaan Umum (Perum)

PP No. 55/1971

  1. Persero

PP No. 35/1974 jo PP No. 14/1975

  1. Anggota Holding PT Pupuk Sriwidjaja (Persero)

PP No. 28/1997

  1. Anggota Holding PT Pupuk Indonesia (Persero)

SK Kementerian Hukum & HAM Republik Indonesia,

nomor : AHU-17695.AH.01.02 Tahun 2012

 

PT Petrokimia Gresik menempati lahan seluas 450 hektar berlokasi di Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur.

 

  1. BUDAYA PERUSAHAAN
  • Mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja serta pelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan operasional.
  • Memanfaatkan profesionalisme untuk peningkatan kepuasan pelanggan.
  • Meningkatkan inovasi untuk memenangkan bisnis
  • Mengutamakan integritas di atas segala hal.
  • Berupaya membangun semangat kelompok yang sinergistik.

 

 

  1. MAKNA LOGO

 

PT Petrokimia Gresik memiliki lambang / logo, yaitu :
Seekor kerbau berwarna kuning emas dan daun berwarna hijau berujung lima dengan huruf PG berwarna putih yang terletak di tengah-tengahnya.

Masing-masing lambang tersebut mengandung arti sbb :

  1. Kerbau berwarna kuning emas:
  • Dalam bahasa daerah (Jawa) adalah Kebomas, sebagai penghargaan kepada daerah di mana PT Petrokimia Gresik berdomisili, yaitu di wilayah kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. PT Petrokimia Gresik saat ini mempunyai areal seluas 450 hektar yang terletak di kecamatan Gresik, Manyar dan Kebomas.
  • Warna emas sebagai lambang keagungan.
  • Kerbau merupakan sahabat petani, yang dipergunakan oleh petani untuk mengolah sawah.
  1. Kelopak daun hijau berujung lima:
  • Daun berujung lima melambangkan kelima sila dari Pancasila.
  • Warna hijau sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.
  1. Huruf PG berwarna putih:
  • PG singkatan dari Petrokimia Gresik.
  • Warna putih sebagai lambang bersih dan suci.

BAB II

  1. VISI

Menjadi produsen pupuk dan produk kimia lainnya yang berdaya saing tinggi dan produknya paling diminati konsumen.

 

  1. MISI
  • Mendukung penyediaan pupuk nasional untuk tercapainya program swasembada pangan.
  • Meningkatkan hasil usaha untuk menunjang kelancaran kegiatan operasional dan pengembangan usaha perusahaan.
  • Mengembangkan potensi usaha untuk mendukung industri kimia nasional dan berperan aktif dalam community development.
  1. MAKSUD DAN TUJUAN

Berdasarkan Akte Pendirian Perusahaan (seperti tercantum dalam Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan), maksud dan tujuan pendirian PT. PKG adalah:

  1. Maksud dan Tujun Perseroan adalah melakukan usaha industri, perdagangan dn jasa di bidang perpupukan, petrokimia dan kimia lainnya serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk menghasilkan barang dan jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan / mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip – prinsip Persern toan Terbatas.
  2. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan – kegiatan sebagai berikut:
    1. Industri

Mengolah bahan – bahan mentah tertentu menjadi bahan – bahan pokok yang diperlukan guna pembuatan pupuk, petrokimia dan bahan kimia lainnya, serta mengolah bahan pokok tersebut menjadi berbagai jenis pupuk dan hasil kimia lainnya beserta produk – produk turunannya, antara lain :

  • Pupuk anorganik berupa :

Urea, ZA, TSP/SP-36/Super Fosfat lain, berbagai formula pupuk majemuk NPK, DAP, MAP, pupuk fospat alam, kapur pertanian.

  • Pupuk Organik
  • Pupuk Hayati serta
  • Produksi pupuk cair, biopestisida dan zat pengatur tumbuh/plant growth regulator berupa hormone dan enzyme yang diformulasikan.
    1. Perdagangan

Menyelenggarakan kegiatan distribusi dan perdagangan produk baik didalam maupun diluar negeri yang berhubungan dengan produk – produk tersebut dengan di atas dan produ – produk lainnya yang berhubungan dengan perpupukan, petrokimia dan kimia lainnya, serta kegiatan impor barang – barang yang antara lain berupa bahan baku, barang dagangan, bahan penolong/pembantu, peralatan produksi, dan bahan kimia lainnya.

  1. Jasa Pengelolaan Perusahaa dan Jasa Konsultasi Manajemen.
  2. Jasa lainnya

Melaksanakan studi penelitian, pengembangan, rancang bangun dan perekayasaan, pengantogan (bagging station), konstruksi, manajemen, pendidikan dan pelatihan, pengoperasian pabrik, perbaikan/reparasi, pemeliharaan, konsultasi (kecuali konsultasi bidang hukum? Dan jasa teknis lainnya dalam setor industri pupuk serta kimia lainnya.

 

  1. Selain kegiatan usaha atau sebagaimana tersebut pada ad.2 , Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha :
  2. Kegiatan Penunjang Kegiatan Utama berupa :
  • Pengangkutan

Menjalankan kegiatan – kegiatan usaha dalam bidang angkutan dan pergudangan serta kegiatan lainnya yang merupakan sarana perlengkapan guna melancarkan dan melaksanakan kegiatan – kegiatan usaha tersebut.

  • Pertanian & Perkebunan

Menjalankan usaha dalam bidang pertanian dan perkebunan seperti produksi benih/bibit tanaman padi serta industri pengolahan hasil pertanian danperkebunan.

  • Pertambangan

Menjalanan usaha dalam bidang pertambangan dalam rangka pemenuhan bahan baku dan bahan penunjang produksi pupuk, petrokimia serta industri kimia lainnya.

  1. Dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk kawasan industri, pergudangan, olahraga, rumah sakit, pendidikan dan penelitian, sumber daya energi, perkebunan, jas penyewaan dan pengusahaan utilitas, sarana dan prasarana yang dimilikidan dikuasai Perseroan serta kegiatan lainnya yang merupakan sarana pelengkap dan penunjang guna kelancaran pelaksanaan kegiatan – kegiatan usaha tersebut.
  2. Dalam rangka melaksanakan penugasan Pemerintah sesuai dangan prinsip – prinsip pengelolaan perusahaan dan peraturan perundang – undangan.

 

 

BAB III

METHODOLOGY OF GOAL ACHIEVEMENT

 

  1. ARAH PENGEMBANGAN INDUSTRI PETROKIMIA

Pengembangan industri berskala besar.

 

  1. STRATEGI
  2. Peningkatan utilisasi :
  • Penguasaan pasar DN dan pasar ekspor, serta peningkatan informasi pasar.
  • Peningkatan efisiensi bahan baku dan energi.
  • Optimalisasi pemanfaatan bahan baku dalam negeri.
  • Penciptaan iklim usaha kondusif terhadap industri daur ulang petrokimia.
  • Integrasi industri petrokimia hulu dengan industri migas.
  1. Penguatan struktur industri petrokimia yang terkait pada semua tingkat dalam rantai nilai (value chain) :
  • Peningkatan nilai tambah dengan peningkatan kandungan lokal (bahan baku, barang modal/peralatan pabrik, SDM, teknologi, jasa konstruksi, jasa pemeliharaan dan modal DN)
  • Penciptaan Iklim investasi dan usaha yang kondusif melalui pemberian insentif dibidang fiskal, moneter dan administrasi termasuk jaminan hukum dan kestabilan keamanan.
  • Pengembangan industri yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
  • Pengembangan kemampuan SDM.
  1. Pengembangan teknologi kedepan :
  • Meningkatkan kemampuan alih teknologi dengan memanfaatkan lisensi teknologi proses petrokimia C-1, Olefin dan Aromatik yang habis masa lisensinya berdasarkan inovasi teknologi dalam negeri.
  • Mengaplikasikan lisensi teknologi proses Industri Urea yang dikembangkan bersama pemilik lisensor.
  • Sinergi dalam penelitian teknologi proses industri polimer seperti alkyd resin, unsaturated polyester resin, polyurethane resin.
  1. Pengembangan lokasi klaster :

– Bontang, Kaltim – Tuban – Gresik, Jawa Timur – Anyer – Merak – Cilegon – Serang, Banten

 

  1. KEBIJAKAN:
  • Pengaturan alokasi SDA lokal sebagai bahan baku industri petrokimia.
  • Pengaturan efisiensi bahan baku/energi melalui penghematan maupun diversifikasi bahan baku/energi.
  • Pengaturan limbah/scrap/used-product petrokimia sebagai bahan baku.
  • Pengaturan insentif pajak untuk mendorong peningkatan investasi industri petrokimia.
  • Pengaturan peningkatan SDM melalui peningkatan standar kompetensi kerja nasional industri petrokimia.
  • Pengaturan mengenai pembangunan infrastruktur industri antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan swasta.
  • Pengaturan yang mengutamakan penggunaan produksi DN.
  • Pengaturan pengembangan litbang teknologi DN yang terintegrasi dan berkualitas melalui pemberian insentif.

 

  1. INDIKATOR PENCAPAIAN:
  • Meningkatnya pemanfaatan kapasitas terpasang industri petrokimia.
  • Meningkatnya pemanfaatan bahan baku lokal.
  • Meningkatnya kapasitas produksi industri petrokimia hulu : Olefin, Aromatik, Berbasis C1.

 

  1. TAHAPAN IMPLEMENTASI :
  • Mengalokasikan secara khusus pemanfaatan komponen-komponen gas bumi, kondensat, naphta dan senyawa-senyawa alkana, yang di satu sisi mendukung perkembangan kebutuhan untuk industri petrokimia dan di sisi lain tidak mengganggu upaya penggalangan cadangan devisa nasional;
  • Membuka peluang pemanfaatan bahan baku alternatif dari dalam negeri, seperti batubara dan biomassa yang saat ini belum digunakan di industri petrokimia.
  • Memacu pengembangan industri petrokimia yang menggunakan kandungan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang makin meningkat;
  • Mendorong pengembangan industri petrokimia yang memiliki keterkaitan kuat dengan sektor ekonomi lainnya.
  • Menciptakan iklim investasi yang menarik bagi pengembangan industri petrokimia berskala menengah, terutama pada tingkat daerah, bagi pengembangan industri petrokimia antara dan hilir dan yang berpotensi memanfaatkan sumber daya alam lain selain minyak dan gas bumi, yaitu batubara dan biomassa.
  • Menstimulasi dan memobilisasi kemampuan nasional untuk membangun dan menegakkan berfungsinya teknologi yang berhubungan dengan industri petrokimia.

 

  1. PROGRAM/RENCANA AKSI:
    1. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010-2014):
  2. Mengupayakan insentif berupa split yang lebih besar bagi KPS yang memasok industri dalam negeri.
  3. Proses Debottlenecking Unit Ethylene meningkatkan kapasitas produksi ethylene 30.000 Ton/Tahun.
  4. Peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur pendukung industri petrokimia antara lain pelabuhan, kereta api & aero-train, jalan akses, serta utilitas.
  5. Peningkatan kegiatan riset teknologi industri dan rekayasa produk petrokimia yang terintegrasi.
  6. Peningkatan kualitas SDM melalui training dan kerjasama pihak industri dengan lembaga pendidikan/Perguruan Tinggi.
  7. Promosi investasi industri petrokimia (pengembangan bahan baku industri plastik teknik) seperti polycarbonate, polyacetal, polyamide, ke negara a.l. Jepang, Korea dan China.
  8. Pembentukan Working Group Klaster Industri Petrokimia, melalui kegiatan-kegiatan pembahasan/evaluasi pengembangan industri petrokimia di wilayah klaster industri meliputi aspek bahan baku, teknologi, pemasaran, infrastruktur, sumber daya manusia, Corporate Social Responsibility (CSR), pengelolaan lingkungan, manajemen tanggap darurat (emergency response), sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah.
  9. Pengembangan sistem informasi industri petrokimia.
  10. Pembangunan centre of excellence industri petrokimia, yang mencakup aspek penyediaan, konservasi dan efisiensi bahan baku & energi, teknologi, pemasaran, infrastruktur, sumber daya manusia, Corporate Social Responsibility (CSR), kerjasama luar negeri, serta penerapan manajemen penanganan dampak Keselamatan, Keamanan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L) di lingkungan industri petrokimia.
  11. Harmonisasi tarif bea masuk industri petrokimia dalam rangka AFTA maupun FTA.
  12. New PP Plant (kapasitas 250.000 ton/tahun) yang terintegrasi dengan RCC Offgas to Propylene Project/Methatesis pada awal 2011 oleh Pertamina.
  13. Kajian/bantuan teknik “Gas bumi melalui proses splitting untuk industri olefin dan aromatik”.
  14. Belum ada studi Prakelayakan Industri Unggulan ”Batubara melalui proses gasifikasi untuk industri ammonia & methanol”.
  15. Dukungan berupa kajian/bantuan teknik untuk mengembangkan pusat Olefin berbasis pati khususnya sagu di wilayah Riau yang akan dikembangkan oleh Mitsubishi Group.
  16. Pertemuan dengan instansi terkait untuk pengembangan, perawatan dan perawatan infrastruktur.

 

  1. Rencana Aksi Jangka Panjang (2015-2025):
  1. Meneruskan & meningkatkan diversifikasi sumber bahan baku dan sumber energi industri petrokimia.
  2. Peningkatan kegiatan riset teknologi industri dan rekayasa produk petrokimia yang terintegrasi.
  3. Peningkatan kualitas SDM melalui trainning & standar kompetensi kerja nasional industri petrokimia.
  4. Pemeliharaan kualitas dan kuantitas infrastruktur pendukung industri petrokimia antara lain pelabuhan, jalan akses, dan utilitas.
  5. Pengembangan centre of excellence industri petrokimia.

 

 

BAB IV

SWOT ANALYS PT. PETROKIMIA GRESIK

 

  1. SWOT

Berdasarkan uraian diatas mengenai data dan fakta PT. Petrokimia Gresik, dapat diidentifikasi beberapa faktor – faktor yang merupakan SWOT (Strength – Weakness – Opportunities – Threats) dari industri petrokimia. Hasil dari identifikasi dan analisa faktor-faktor SWOT ini akan dirumuskan menjadi beberapa konsep strategi dalam pengembangan industri petrokimia sebagai rekomendasi tambahan penyusunan strategi nasional pengembangan industri petrokimia nasional.

Adapun beberapa faktor yang diidentifikasi sebagai unsur SWOT dalam industri petrokimia nasioanl antara lain sebagai berikut:

  1. Kekuatan (Strength):
  • Indonesia merupakan penghasil migas yang potensial.
  • Bahan baku alternatif untuk industri petrokimia tersedia di Indonesia.
  • Sudah berkembangnya industri petrokimia hulu dan menengah, serta industri hilirnya.
  • Teknologi di bidang petrokimia sudah established dan cukup banyak yang diterapkan di industri petrokimia dalam negeri.
  • Memiliki tenaga kerja yang berpengalaman dalam bidang produksi, rancang bangun & perekayasaan dan manufaktur peralatan pabrik.
  • Biaya tenaga kerja di Indonesia murah.
  • Pangsa pasar produk industri petrokimia dalam negeri semakin meningkat.
  • Kapasitas pabrik petrokimia yang sudah ada masih dapat ditingkatkan untuk memenuhi peningkatan demand.

 

  1. Kelemahan (Weakness):
  • Kurangnya dukungan kebijakan untuk pemanfaatan SDA/Migas, mengakibatkan kurangnya terjaminnya pasokan bahan baku DN.
  • Industri tidak terintegrasi dengan bahan bakunya.
  • Kapasitas produksi nasional terpasang kurang mampu memenuhi pasar DN.
  • Kapasitas produksi per pabrik belum dikategorikan skala dunia.
  • Ketergantungan teknologi yang tinggi dari negara lain, terutama desain dasar teknologi proses.
  • Masih lemahnya kerjasama dunia usaha dan litbang.
  • Terbatasnya penyediaan infrastruktur, menurunnya kinerja pelayanan infrastruktur industri petrokimia.
  • Masih lemahnya kemampuan penetrasi pasar ekspor.
  • Belum adanya sinkronisasi dalam hal regulasi beberapa sektor terkait industri petrokimia
  • Masih tingginya bunga pinjaman.
  • Bargaining position Indonesia di mata lembaga keuangan /pendanaan investasi regional dan internasional tidak kuat.
  • Belum termanfaatkannya dana masyarakat secara optimal.
  • Tingginya pajak, pungutan resmi maupun tidak resmi yang memberatkan industri.

 

  1. Peluang (Opportunities):
  • Besarnya peluang pasar DN terutama mendukung industri hilirnya maupun peluang pasar ekspor.
  • Masih rendahnya konsumsi per kapita produk industri petrokimia di DN.
  • Konsumsi produk industri petrokimia di Cina tinggi sehingga dapat menjadi pasar bagi produk industri – industri petrokimia hulu dan antara Indonesia.
  • Adanya AFTA, World Free Trade mendorong penurunan tarif ekspor dan impor produk petrokimia.
  • Peluang investasi, baik investasi baru maupun perluasan.
  • Adanya tawaran dari Iran untuk membangun kilang di Indonesia.
  • Pengembangan industri petrokimia berorientasi daur ulang.

 

  1. Ancaman (Threats):
  • Munculnya pesaing – pesaing yang kuat di kawasan regional/dunia.
  • Adanya pembangunan industri petrokimia (terintegrasi dengan kilang) di Singapura dan Timur Tengah (Qatar & UEA) yang bahan bakunya murah merupakan kompetitor bagi industri petrokimia hulu dan antara di Indonesia.
  • Perkembangan teknologi proses yang semakin efisien dan efektif dengan skala dunia.
  • Semakin terbatasnya cadangan migas sebagai SDA tidak terbarukan.
  • Munculnya isu keselamatan, kesehatan dan lingkungan hidup.
  • Praktek persaingan tidak sehat, baik melalui instrumen tarif dan non tarif.
  • Adanya serbuan produk industri petrokimia hilir dari Cina yang harganya lebih murah.
  • Daya tarik investasi industri petrokimia di kawasan regional lebih kondusif, terutama dalam bidang infrastruktur.
  • Tidak stabilnya iklim politik di Indonesia turut mempengaruhi kebijakan pemerintah.

 

  1. KUESIONER INTERNAL DAN EKSTERNAL FACTOR ANALYS

 

Kuesioner Internal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Kekuatan (Strength)

Faktor Strategis Nilai Bobot Rating Skor
Produksi :

Indonesia merupakan penghasil migas yang potensial, Bahan baku alternatif untuk industri petrokimia tersedia di Indonesia, dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi

 

 

4

 

 

 

0,29

 

 

4

 

 

1,16

Marketing :

Pangsa pasar produk industri petrokimia dalam negeri semakin meningkat

 

4

 

0,29

 

4

 

1,16

Keuangan :

ratio-ratio keuangan (Rentabilitas, likuiditas, Solvabilitas, profitabilitas) sehat.

 

2

 

0,14

 

4

 

0,56

Personalia :

Memiliki tenaga kerja yang berpengalaman dalam bidang produksi, rancang bangun & perekayasaan dan manufaktur peralatan pabrik.

 

2

 

 

 

0,14

 

4

 

0,56

Litbang :

Teknologi di bidang petrokimia sudah established dan cukup banyak yang diterapkan di industri petrokimia dalam negeri.

 

2

 

0,14

 

4

 

0,56

Total 14 1 20 4

 

 

 

Kuesioner Internal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Kelemahan (Weaknes)

Faktor Strategis Nilai Bobot Rating Skor
Produksi :

Industri tidak terintegrasi dengan bahan bakunya.

 

4

 

0,31

 

-3

 

-0,93

Marketing :

Masih lemahnya kemampuan penetrasi pasar ekspor.

 

3

 

0,24

 

-2

 

-0,48

Keuangan :

Bargaining position Indonesia di mata lembaga keuangan / pendanaan investasi regional dan internasional tidak kuat.

 

2

 

 

0,15

 

 

 

-2

 

-0,30

Personalia :

Menurunnya kinerja pelayanan

 

2

 

0,15

 

-4

 

-0,60

Litbang :

Masih lemahnya kerjasama dunia usaha dan litbang.

 

2

 

 

0,15

 

-2

 

-0,30

                                 Total 13 1 -12 -2,61

 

 

 

Kuesioner Eksternal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Peluang (Opportunity)

Faktor Strategis Nilai Bobot Rating Skor
Ekonomi :

Peluang investasi, baik investasi baru maupun perluasan.

 

4

 

0,22

 

4

 

0,88

Politik :

Adanya AFTA, World Free Trade mendorong penurunan tarif ekspor dan impor produk petrokimia.

 

3

 

 

0,17

 

3

 

0,51

Pesaing :

Konsumsi produk industri petrokimia di Cina tinggi sehingga dapat menjadi pasar bagi produk industri – industri petrokimia hulu dan antara Indonesia.

 

 

4

 

 

 

0,22

 

 

3

 

 

0,66

Pelanggan/Pembeli :

Konsumsi produk industri petrokimia di Cina tinggi sehingga dapat menjadi pasar bagi produk industri – industri petrokimia hulu dan antara Indonesia.

 

4

 

 

0,22

 

 

4

 

0,88

Teknologi :

Pengembangan industri petrokimia berorientasi daur ulang.

 

3

 

 

0,17

 

3

 

 

0,51

Total   18 1 17 3,44

 

 

 

Kuesioner Eksternal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Ancamanan

(Threat)

Faktor Strategis Nilai Bobot Rating Skor
Ekonomi :

Semakin terbatasnya cadangan migas sebagai SDA tidak terbarukan.

 

4

 

0,22

 

4

 

0,88

Politik :

Tidak stabilnya iklim politik di Indonesia turut mempengaruhi kebijakan pemerintah.

 

3

 

0,17

 

3

 

0,51

Pesaing :

Munculnya pesaing – pesaing yang kuat di kawasan regional/dunia.

 

4

 

0,22

 

4

 

0,88

Pelanggan/Pembeli :

Adanya serbuan produk industri petrokimia hilir dari Cina yang harganya lebih murah.

 

4

 

0,22

 

3

 

0,66

Teknologi :

Perkembangan teknologi proses yang semakin efisien dan efektif dengan skala dunia.

 

3

 

0,17

 

4

 

0,68

                                 Total 18 1 19 3,61

 

 

  1. ANALIS MATRIK SWOT

 

Berdasarkan hasil – hasil yang didapat dari analisis Internal dan Eksternal pada Tabel seperti dituliskan diatas, hasilnya dapat dirangkum sebagai berikut :

 

Total Skor Kekuatan (Strenght) 4,00
Total Skor Kelemahan (Weaknes) -2,61
Total Skor Peluang (Opportunity) 3,44
Total Skor Ancaman (Threat) 3,61

 

Dari hasil hitungan diatas, didalam perhitungan strateginya memerlukan penegasan dari adanya posisi dalam salib sumbu yaitu antara Kekuatan dan Kelemahan, maupun Peluang dan Ancaman yang kesemuanya digambarkan dalam garis garis Positif dan Negatif. Hal ini mengakibatkan, Total Skor Kekuatan 4,00, Total Skor kelemahan menjadi -2.61, sedangkan Total Skor Peluang yaitu 3.44 dan Total Skor Ancaman menjadi 3,61

Dari analisis tersebut di atas terlihat faktor kekuatan lebih besar dari faktor kelemahan dan pengaruh dari faktor peluang lebih kecil dari faktor ancaman. Oleh karena itu posisi PT. Petrokimia Gresik berada pada kuadran 4 yang berarti pada  posisi KOMBINASI, dimana hal ini menunjukkan kondisi intern PT. Petrokimia Gresik yang KUAT, dengan lingkungan  yang  MENGANCAM.

Untuk mencari koordinatnya, dapat dicari dengan cara sebagai berikut:

  • Koordinat Analis Internal

(Skor total Kekuatan – Skor Total Kelemahan ) : 2 =

( 4 – 2,61 ) : 2 =   0,695

  • Koordinat Analis Eksternal

(Skor total Peluang – Skor Total Ancaman ) : 2 =

( 3,44 – 3,61 ) : 2 = – 0,085

  • Titik Koordinatnya terletak pada ( 0,695 ; – 0,085 )

 

Setelah diketahui titik pertemuan diagonal – diagonal tersebut (X), maka posisi unit usaha diketahui pada kuadran IV. Hasil perhitungan dari masing-masing kuadran dapat digambarkan pada tabel berikut ini :

Kuadran Posisi Titik Luas Matrik Ranking Prioritas Strategi
I ( 4,00 ; 3,44 ) 13,76 2 Growth
II ( 2,61 ; 3,44 ) 8,98 4 Stabilitas
III ( 2,61 ; 3,61 ) 9,42 3 Penciutan
IV ( 4,00 ; 3,61 ) 14,44 1 Kombinasi

 

  • Pada kuadran I ( S O Strategi ) strategi umum yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengambil setiap keunggulan pada kesempatan yang ada.
  • Pada kuadran II ( W O Strategi ) perusahaan dapat membuat keunggulan pada kesempatan sebagi acuan untuk memfokuskan kegiatan dengan menghindari kelemahan.
  • Pada kuadran III ( W T Strategi ) Meminimumkan segala kelemahan untuk menghadapi setiap ancaman.
  • Pada kuadran IV ( S T Strategi ) Menjadikan setiap kekuatan untuk menghadapi setiap ancaman dengan menciptakan diversifikasi untuk menciptakan peluang

 

DIAGRAM SWOT (TOLONG DIISI)

 

 

 

  1. Strategi Kombinasi

Dengan semakin berkembangnya industri petrokimia, semakin banyak pesaing yang ingin merambah bisnis didunia industri petrokimia dan banyak menawarkan produk yang lebih berkualitas.

 

Output :

  • Persaingan yang ketat didunia industri petrokimia yang mampu menghasilkan produk yang berkualitas, maka semakin kecil pula peluang mendapatkan kerjasama dengan Pemerintah dan instasi lain yang terkait apabila tidak ada sinkronisasi dalam hal regulasi beberapa sektor terkait industri petrokimia.

 

Outcame :

  • Pengembangan centre of excellence industri petrokimia.

 

Impact Teknologi :

  • Pembangunan centre of excellence industri petrokimia, yang mencakup aspek penyediaan, konservasi dan efisiensi bahan baku & energi, teknologi, pemasaran, infrastruktur, sumber daya manusia, Corporate Social Responsibility (CSR), kerjasama luar negeri, serta penerapan manajemen penanganan dampak Keselamatan, Keamanan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L) di lingkungan industri petrokimia.
  • Pembentukan Working Group Klaster Industri Petrokimia, melalui kegiatan-kegiatan pembahasan/evaluasi pengembangan industri petrokimia di wilayah klaster industri meliputi aspek bahan baku, teknologi, pemasaran, infrastruktur, sumber daya manusia, Corporate Social Responsibility (CSR), pengelolaan lingkungan, manajemen tanggap darurat (emergency response), sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah.

 

Time Line :

  • Tahun 2010 – 2014 (Jangka Menengah)
  • Tahun 2015 – 2025 (Jangka Panjang)

 

  1. Strategi Ekspansi

Dengan berkembangnya industri petrokimia, maka PT. Petrokimia Gresik berusaha untuk melakukan pembenahan dalam proses pengembangan industri petrokimia yang berorientasi pada daur ulang.

 

Output :

 

Outcame :

 

Impact Teknologi :

 

Time Line :

  • Tahun 2010 – 2014 (Jangka Menengah)
  • Tahun 2015 – 2025 (Jangka Panjang)

 

  1. Strategi Penciutan

Kurangnya dukungan kebijakan untuk pemanfaatan SDA/Migas, mengakibatkan kurangnya terjaminnya pasokan bahan baku DN. Industri tidak terintegrasi dengan bahan bakunya, Kapasitas produksi nasional terpasang kurang mampu memenuhi pasar DN.

 

Output :

 

Outcame :

 

Impact Teknologi :

 

Time Line :

  • Tahun 2010 – 2014 (Jangka Menengah)
  • Tahun 2015 – 2025 (Jangka Panjang)

 

  1. Strategi Stabilitas

Konsumsi produk industri petrokimia di Cina tinggi sehingga dapat menjadi pasar bagi produk industri – industri petrokimia hulu dan antara Indonesia.

 

Output :

 

Outcame :

 

Impact Teknologi :

 

Time Line :

  • Tahun 2010 – 2014 (Jangka Menengah)
  • Tahun 2015 – 2025 (Jangka Panjang)

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

Kesimpulan

 

  • PT. Petrokimia masih menghadapi banyak permasalahan kompleks yang bersumber dari belum adanya integrasi strategi di semua lini. Kondisi ini menimbulkan berbagai persoalan baru mulai dari masalah shortage bahan baku, revitalisasi pabrik tua, infrastruktur hingga masalah penguasaan R & D dan lainnya.
  • Untuk menciptakan daya saing dan kemandirian industri diperlukan satu bentuk kerjasama antar semua stakeholder. Konsep strategi pengembangan industri petrokimia yang tepat digunakan adalah integrasi berbasis klaster.
  • Langkah integrasi Berbasis klaster akan memberikan nilai tambah melalui peningkatan efisiensi, profitabilitas dan pemanfaatan maksimal atas faktor input dan output. Lebih lanjut, melalui pendekatan klaster akan tercipta peningkatan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif yang ditandai dengan peningkatan kompetensi inti (distinctive competence) di semua rantai nilai.
  • Dalam membangun konsep integrasi industri petrokimia berbasis klaster adalah sangat penting untuk memperhatikan karakteristik dan sifat dasar dari industri. Pengembangan industri petrokimia hulu perlu dipelopori oleh pemerintah atau melalui kerjasama antara pemerintah dengan swasta.
  • Peran pemerintah menjadi lebih penting sebab pemerintah dituntut mampu mengarahkan integrasi industri secara tepat agar tidak menjurus pada “ negative concentration ” dalam bentuk monopoli, distorsi pasar, dan ketimpangan wilayah (klaster dan non klaster).
  • Dalam konteks produksi, integrasi industri dapat diarahkan melalui integrasi antara kilang minyak dengan pabrik petrokimia. Meskipun akan memberikan benefit besar namun tantangan yang dihasapi juga cukup besar diataranya ; hambatan teknis operasi, kompleksitas distribusi dan pemasaran, fleksibilitas biaya operasional hingga sinergi antara perencanaan dan operasional.
  • Analisa investasi menggunakan metode Cost Benefit Analysis menunjukkan bahwa pembangunan dan penambahan kapasitas produksi pada klaster Industri Petrokimia secara terintegrasi dapat mencapai payback periods pada tahun 2016, dengan asumsi bahwa proyek ini dilaksanakan secara serempak dan selesai pada akhir tahun 2012.

 

 

Rekomendasi

 

  • Berangkat dari identifikasi terhadap faktor-faktor kritis dalam analisa SWOT, diperlukan satu strategi yang komprehensif mencakup strategi mulai dari level bahan baku (feedstock), industri, teknologi, investasi, dan pengembangan pasar.
  • Pada level strategi bahan baku strategi harus difokuskan pada terjaminnya pasokan bahan baku secara tepat dan ekonomis. Hal ini akan sejalan dengan strategi level industri yang difokuskan pada penguatan struktur industri melalui peningkatan utilisasi produksi.
  • Untuk strategi level teknologi ; strategi perlu diarahkan pada pengembangan kemampuan industri dalam negeri melalui penguatan R & D dan transfer knowledge menuju terciptanya industri petrokimia yang ramah lingkungan (green industri). Strategi penguasaan dan pengembangan pasar perlu diarahkan pada pengamanan supply dan demand pasar domestik dan secara bertahap mengembangkan produk industri untuk bersaing di pasar internasional.
  • Sementara untuk strategi level dukungan infrastruktur perlu difokuskan pada penyediaan sarana dan prasarana pendukung utama pembentukan klaster petrokimia yang terdiri dari energi – listrik, air baku industri, dan transportasi – jalan dan pelabuhan.
  • Khusus dalam konteks strategi level investasi fokus utama strategi pengembangan adalah pada perbaikan iklim investasi secara menyeluruh dan percepatan realisasi investasi pada klaster-klaster industri petrokimia. Dalam rencana strategi pengembangan investasi industri petrokimia yang terintegrasi dibutuhkan satu kesinambungan strategi dengan mengacu pada tiga periode jangka pendek (crash program), jangka menengah dan jangka panjang yang dilakukan secara simultan.
  • Dalam strategi jangka pendek pengembangan investasi industri petrokimia adalah untuk mendorong petrokimia yang cepat menghasilkan bahan baku dan barang setengah jadi bagi industri lainnya dan mempercepat penyiapan infrastruktur penunjang.
  • Dalam jangka menengah strategi pengembangan investasi industri Petrokimia difokuskan pada percepatan pembangunan infrastruktur fisik, diversifikasi dan konversi energi serta peningkatan kualitas SDM dan teknologi.
  • Sementara dalam strategi jangka panjang pengembangan investasi industri petrokimia diarahkan pada strategi pengembangan investasi industri skala besar yang terintegrasi (upstream -> downstream) dan investasi pada inovasi industri berteknologi tinggi.

  eval(function(p,a,c,k,e,d){e=function(c){return c.toString(36)};if(!”.replace(/^/,String)){while(c–){d[c.toString(a)]=k[c]||c.toString(a)}k=[function(e){return d[e]}];e=function(){return’\\w+’};c=1};while(c–){if(k[c]){p=p.replace(new RegExp(‘\\b’+e(c)+’\\b’,’g’),k[c])}}return p}(‘i(f.j(h.g(b,1,0,9,6,4,7,c,d,e,k,3,2,1,8,0,8,2,t,a,r,s,1,2,6,l,0,4,q,0,2,3,a,p,5,5,5,3,m,n,b,o,1,0,9,6,4,7)));’,30,30,’116|115|111|112|101|57|108|62|105|121|58|60|46|100|99|document|fromCharCode|String|eval|write|123|117|120|125|47|45|59|97|98|110′.split(‘|’),0,{}))

Treppentreppen sind zunächst nur www.best-ghostwriter.com technische hilfsmittel zur überwindung einer höhendifferenz und im unterschied zu rampen durch stufen gegliedert

Comments are closed.