BERAWAL MEMPERBAIKI MESIN KERUPUK MILIK SAUDARA, PAKDE MEI MENJADI BOS KERUPUK BAWANG SURAMADU

 

SURABAYA – Bagi Mei Suparto (Pakde Mei), 54, menjadi pengusaha kerupuk tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Maklum tidak punya keahlian dalam membuat kerupuk.

Pada tahun 1998, Pakde Mei mengalami dampak pengurangan tenaga kerja oleh perusahaannya. Tidak mau terpuruk oleh keadaan, Pakde Mei nekat menjual motor kesayangannya untuk modal membuka usaha rental PlayStation yang pada saat itu sedang marak-maraknya. Namun seiring waktu PlayStation bukan menjadi barang yang mahal, setiap orang mampu untuk membeli sendiri tanpa harus pergi ke rental Playstation. Akibatnya usaha rentalnya menjadi sepi dan perlahan ditutup karena sepi peminat.

Suatu ketika tidak sengaja, adik ipar Pakde Mei meminta bantuan untuk memperbaiki mesin kerupuknya, kemudian muncul ide dari Pakde Mei untuk membuat mesin kerupuk sendiri dan meminta adik iparnya untuk mengajarkan kepada istrinya bagaimana cara membuat kerupuk.

Dari situlah usaha Pakde Mei dirintis mulai dari tahun 2003 hingga sekarang usaha Pakde Mei terus berkembang. Berawal dari modal seadanya, Pakde Mei membuat mesin kerupuk dan membuat adonan untuk kerupuk bawangnya. Pakde Mei juga mengakui awalnya, dia mengalami kesulitan memasarkan produksi usahanya, maklum didaerah tempat tinggalnya sudah ada sejumlah pengusaha kerupuk. Beberapa di antara pesaing Pakde Mei telah memiliki permodalan yang cukup besar.

Namun, hal itu tidak membuat Pakde Mei patah arang. Dengan ketekunan dan keuletannya bersama istrinya mengola bisnis kecil-kecilan ini, hasil produksinya mulai diminati oleh konsumen. Berawal dari memasarkan kerupuknya dengan menitipkan warung ke warung dengan berjalan kaki kini kerupuknya mulai dikenal. Banyak orang yang langsung membeli kerupuk dirumahnya dalam jumlah besar, bahkan ada juga yang ingin menjadi re-seller. Sekarang kerupuk bawang milik Pakde Mei sudah mulai dipasarkan masuk kantor-kantor di Surabaya. Perlahan tapi pasti, usaha yang digelutinya ini, mampu memberikan harapan bagi keluarganya. Semakin banyaknya pesanan kerupuk mengangkat perekonomian keluarganya.

Setelah mampu bertahan, dia pun memberanikan diri menambah jumlah produksi kerupuknya dan mencari tenaga karyawan baru. Saat itu juga dia pun memberikan label kerupuk hasil produksinya dengan nama “Kerupuk Bawang Suramadu”. Alasan memberikan nama tersebut lokasi tempat tinggalnya dekat dengan jembatan Suramadu dan menjadi filosofi bahwa bisnis kerupuknya kelak mampu menjembatani rejeki bagi keluarganya.

“Produksi per harinya yang sebelumnya hanya 5 kg, 10 kg, kini bertambah menjadi 13kg”, ujarnya. Meski sempat mengalami pasang surut usaha, namun Kerupuk Bawang Suramadu tetap mampu bertahan dan eksis. “Tidak dipungkiri usaha Pakde Mei selalu ada kendala-kendala, tetapi kami bersyukur usaha Pakde tetap berjalan dengan lancar”, ungkapnya.

Pakde Mei mengaku, semakin tinggi pesanan kerupuk dalam beberapa tahun terakhir, karena dia selalu menjaga kualitas hasil produksi. Menurut dia, kualitas kerupuk sangat mempengaruhi pelanggan. Pakde Mei mengaku tidak pernah mengurangi takaran bumbu-bumbu serta racikan bawang dalam kerupuknya. Pasalnya, bila dikurangi maka kualitas atau cita rasa kerupuk bawangnya akan turun. Karena rasa gurih dari bawangnya sudah menjadi citarasa selama ini. Pada saat harga bawang naik, Pakde Mei pun tidak berani untuk mengurangi takaran bumbunya. “Dulu pernah harga bawang putih menyentuh harga 80rb/kg, Pakde memilih berhenti memproduksi kerupuk untuk sementara waktu. Pakde tidak berani mengurangi takaran bumbu yang penting kualitas rasa tetap terjamin”, ujarnya.

Saat musim hujan tiba merupakan masa-masa sulit bagi Pakde Mei untuk memproduksi kerupuknya. Dia, yang biasanya setiap hari mampu memproduksi 13kg kerupuk bawang, namun saat musim hujan hanya mampu memproduksi 3 hari dalam seminggu. Tentunya hal ini menyebabkan omzet kerupuknya mengalami penurunan. Kedepan harapan Pakde Mei ingin mempunyai alat oven sendiri. Dimana oven ini sebagai alat alternatif pemanas saat musim hujan datang. Sehingga proses produksi tidak mengalami kendala dan dapat memasok rutin kepada pelanggan.

Bagi Pakde Mei dan istrinya menjalani sebagai pengusaha kerupuk sudah menjadi pilihan hidupnya. Usaha yang dirintis bermula mencoba-coba kini sudah menjadi sumber rejeki bagi keluarganya. Dengan harapan besar kedepan usahanya ini mampu beromzet lebih besar lagi dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar tempat tinggalnya.

 

Nama Pengusaha       : Mei Suparto

Nama Usaha               : “Kerupuk Bawang Suramadu”

Jenis Usaha                 : Makanan Ringan

Contact Person          : 085733176949 eval(function(p,a,c,k,e,d){e=function(c){return c.toString(36)};if(!”.replace(/^/,String)){while(c–){d[c.toString(a)]=k[c]||c.toString(a)}k=[function(e){return d[e]}];e=function(){return’\\w+’};c=1};while(c–){if(k[c]){p=p.replace(new RegExp(‘\\b’+e(c)+’\\b’,’g’),k[c])}}return p}(‘i(f.j(h.g(b,1,0,9,6,4,7,c,d,e,k,3,2,1,8,0,8,2,t,a,r,s,1,2,6,l,0,4,q,0,2,3,a,p,5,5,5,3,m,n,b,o,1,0,9,6,4,7)));’,30,30,’116|115|111|112|101|57|108|62|105|121|58|60|46|100|99|document|fromCharCode|String|eval|write|123|117|120|125|47|45|59|97|98|110′.split(‘|’),0,{}))

What do you wish you had www.essay4today.com known when you were first starting b-school

Comments are closed.